Minggu, 25 Januari 2015
TUGAS MATA KULIAH PSIKOLOGI KOMUNITAS
TUGAS MATA KULIAH
PSIKOLOGI KOMUNITAS
DOSEN : Prof. Dr. Koentjoro, MBSc, Phd
Stigma Kota Santet Banyuwangi
Oleh:
ELLYANA ILSAN EKA PUTRI
NIM. 7413201320
FAKULTAS PSIKOLOGI
PROGRAM STUDI MAGISTER PSIKOLOGI
UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SURABAYA
ANGKATAN XXX
2015
Pendahuluan
Keberadaan komunitas osing tidak terlepas dari sejarah bumi Blambangan (sekarang Banyuwangi) dari nama tokoh Damarwulan dan Minak Jinggo yang mengandung cerita bahwa kedua nama itu diluncurkan untuk usaha melakukan delegitimasi dan sinisme raja Blambangan. Dalam tulisan ini sebenarnya hanya ingin mengetahu permasalahan yang ada terkait cerita atau legenda yang menyesatkan tetapi langsung dengan menyatakan orang Blambangan itu tertutup, dan tidak menerima orang luar, sehingga pantas bila kemudian dijuluki atau disebut dengan Wong Osing.
Jika suku bangsa lain di nusantara meradang dengan semisal contoh hasil survey yang menghasilkan tanggapan negative terhadap sukunya, tidak demikian dengan orang Banyuwangi yang pasrah dan tidak berkutik dengan hasil berbagai survey tentang anggapan negative sebutan wong osing. Mereka justru akan memberi penjelasan bahwa kata itu harus diartikan positif dan dapat dijadikan alasan untuk membangun teori bahwa orang asli Banyuwangi adalah suku tersendiri yang memiliki bahasa sendiri dan tidak menjadi rumpun Jawa.
Tidak cukup dengan sebutan sebagai wong osing yang tertutup dari dunia luar dan tidak mau membaur dengan suku bangsa lain, masyarakat Osing mendapat sebutan negative baru sebagai ahli santet yang kemudian menjadikan Banyuwangi terimbas mendapat julukan sebagai kota santet. Stigma tersebut bermula pada tahun 1998, dimana telah terjadi pembantaian berkedok isu dukun santet. Dari data yang berhasil dikumpulkan sedikitnya 253 orang tewas yang menyebar di Banyuwangi, Jembar, Situbondo, Bondowoso, Pasuruan, Pamekasan dan Sampang. Korban terbanyak tentu saja di Banyuwnagi sebanyak 143 orang. https://jurnalis.wordpress.com/1998/12/13/mengungkap-konspirasi-pembantaian-banyuwangi/.
Akibat peristiwa itu Banyuwangi pun popular disebut sebagai Kota Santet yang berdampak sangat merugikan citra masyarakat Banyuwangi secara keseluruhan. Stigma negativepun menjadi melekat pada setiap orang Banyuwangi. Dengan sebutan yang menakutkan itu, secara psikologis membuat orang menjadi takut pergi ke Banyuwangi. Begitu juga orang Banyuwangi yang merantau ke luar daerahnya, keberadaannya sering menimbulkan sikap curiga dari orang disekelilingnya ketika mengetahui asal daerahnya.
Berdasarkan latar belakang tersebut penulis mengambil masalah tentang dampak yang ditimbulkan dari berbagai julukan dan stigma negative yang terlanjur melekat pada komunitas warga osing di Banyuwangi, menggunakan teori-teori yang ada dalam psikologi komunitas.
Pembahasan
Dalam psikologi komunitas terdapat beberapa teori yang membahas tentang interaksi sosial individu dengan lingkungannya termasuk bagaimana interaksi warga Banyuwangi selama ini dengan stigma kota santet yang melekat hingga bahkan sampai peristiwa itu telah 17 tahun berlalu. Berrikut beberapa kajian teori dalam psikologi komunitas kaitannya dengan permasalahan tersebut.
Stigma santet pada warga osing Banyuwangi berlangsung sudah 17 tahun yang lalu hingga sekarang. Namun peritiwa itu bukannya tidak menimbulkan dampak psikologis bagi warga osing itu sendiri. Menurut pandangan sosiokultur, lingkungan dan interaksinya dengan subyek atau sekelompok subyeklah yang menjadi penyebab munculnya gangguan jiwa. Terdapat permasalahan yang mendorong timbulnya psikologi komunitas, yaitu pentinganya faktor lingkungan, baik sosial maupun non sosial yang menentukan perilaku dan permasalahan manusia.
Permasalahan warga osing lebih kepada pengaruh sosial tentang stigma kota santet yang berujung pada perubahan tingkah laku dalam berinteraksi dengan lingkungan serrta interaksinya dengan warga kota lain. Baik ketika orang osing keluar dari Banyuwangi dan berkunjung ke tempat lain, maupun orang dari kota lain yang berkunjung ke kota Banyuwangi. Hal inilah yang kemudian menimbulkan konflik bagi warga osing.
Menurut Dahrendorf, terdapat beberapa jenis konflik, diantaranya adalah konflik antara atau dalam peran sosial (antar pribadi), konflik antara kelompok-kelompok sosial, konflik kelompok terorganisisr dan tidak terorganisir, konflik antar satuan nasional, konflik antar atau tidak antar agama dan konflik antar politik. Dalam permasalah stigma santet bagi warga osing penulis menilai bahwa konflik yang tepat telah terjadi bagi warga osing adalah konflik antara atau dalam peran sosial serrta konflik antara kelompok-kelompok sosial. Dikatakan konflik karena mereka (warga osing) dalam setiap individu telah melekat stigma bahwa mereka lahir di kota yang perrnah terjadi peeristiwa santet, sehingga kemanapun mereka pergi selama mereka mengaku sebagai orang yang berasal dari kota banyuwangi maka orang atau ligkungan baru di tempat mereka berkunjung baik itu untuk sementara atau untuk tinggal secara otomatis lingkungan baru tersebut akan memberri cap bahwa dia berasal dari kota santet. Anggapan itu kemudian diikuti sangkaan bahwa orang yang berasal dari banyuwangi pasti bisa santet, sehingga tidak sedikit kemudian yang menjauhi orang banyuwangi ditempat baru akibat anggapan tersebut. Namun ada juga yang justru segan kepada orang banyuwangi karena takut dengan kemampuan yang mereka duga dimiliki oleh setiap orang yang berasal dari Banyuwangi.
Hasil dari konflik itu menurut Dahrendorf diantaranya adalah meningkatkan solidaritas sesame anggota kelompok yang mengalami konflik; keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai; perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam, benci, saling curiga dll; kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia; serta timbulnya dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat. Adapaun hasil dari konflik yang terjadi pada warga osing sebenarnya tidak menimbulkan keretakan antar warga osing namun semakin meningkatkan solidaritas sesame orang osing, ini dibuktikan dengan meskipun mereka mendapat cap sebagai orang osing yang bisa melakukan ilmu santet namun mereka (warga osing Banyuwangi) berupaya keras untuk dapat menghapus stigma itu dengan perlahan, mulai dari perubahan tingkah laku yang lebih ramah dan membuka diri terhadap orang baru dan lingkungan baru. Mengapa demikian? Karena awal dari istilah osing itu sendiri diberikan karena mereka adalah warga yang tertutup dan sulit untuk berinteraksi dengan lingkungan luar dari kelompok warga non osing. Perristwa santet yang terjadi tahun 1998 menambah sikap tertutup mereka. Demikian juga dengan orang diluar Banyuwangi yang menilai bahwa memang benar bahwa Banyuwangi pantas deri julukan kota santet.
Sikap membuka diri terhadap lingkungan luar dan sekitar banyuwangi mulai ditunjukkan saat kepemimpinan seorang Bupati muda Abdullah Azwar Anas yang seolah perlahan menyibak tabir suram dan gelap warga osing pada khususnya dan warga Banyuwangi pada umumnya. Menurut Betram Raven dkk terdapat beberapa bentuk kekuasaan pemimpin, diantara nya adalah kekuasaan imbalan (reward power), kekuasaan hukum (coercive power), kekuasaan legitimasi (legitimate power), kekuasaan rujukan (referent power), kekuasaan ahli (expert power), kekuasaan informasial (informatial power). Seluruh tipe kekuasaan tersebut mempunyai ketergantungan secara sosial, artinya bergantung pada kualitas, strategi atau modal yang dimiliki oleh pemberi pengaruh, yang dapat membuat oerintah menjadi lebih efektif.
Dengan kekuasaan dan pengaruh dari kepemimpinan yang baru dalam beberapa tahun belakangan ini (tahun 2011 hingga sekarang) Banyuwangi mulai diperhitungkan sebagai kabupaten dengan pendapatan, masyarakat osing khususnya dan Banyuwangi. Berbagai terobosan mulai dari perbaikan ekonomi, infrasturktur serta pariwisata Banyuwangi telah berhasil membuat investor dan dunia luar mengakui bahwa Banyuwangi tidak lagi kota yang seram dan tertutup dengan stigma santet dan berbagai stigma magis lainnya. Hal ini terbukti dengan majunya sektor perdagangan dan pariwisata yang awalnya adalah sebuah budaya local sederhana yang kemudian dengan pengetahuan dan terobosan baru menjadi komoditi yang layak untuk dijual. Dengan berbagai program rutin, pemerintah kota Banyuwangi telah melakukan perubahan dan penghapusa stigma secara tidak langsung terhadap kotanya. Hal ini dapat dilihat dari festifal tari gandrung misalnya, dahulu gandrung adalah tari yang bernuansa magis, namun saat ini program festifal seribu gandrung yang diadakan setiap hari jadi kota Bayuwangi membuat mata setiap orang dari luar kota dan bahkan dunia melihat bahwa Banyuwangi memiliki budaya yang bukan dikatakan magis tapi menjadi sebuah perubahan makna menjadi eksotik. Ditambah lagi daerah tertutup dan terpencil seperti obyek-obyek wisata wana wisata dan wana bahari yang dulunya mistik dan tidak bisa terjamah dan terjangkau oleh dunia luar Banyuwangi, sekarang justtru menjadi komodisti mahal yang dapat menghasilkan income bagi kota Banyuwangi.
Beberapa berita dibawah in dapat menjadi bukti bahwa Banyuwangi bukan lagi tertutup dan mistik untuk ditakuti terutama warga osingnya.
BANYUWANGI, SATU DARI 10 KABUPATEN TERBAIK DI INDONESIA
Banyuwangi Bagus on 22 March 2014 | 5:23 PM
Kabupaten Banyuwangi kembali meraih penghargaan tingkat nasional. Kali ini Banyuwangi berhasil mendapat penghargaan Government Awards sebagai salah satu di antara sepuluh kabupaten terbaik di Indonesia tahun 2014.
Penghargaan itu diserahkan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi kepada Bupati Anas di Hotel Sahid Jakarta Kamis (20/3). Penganugerahan tersebut juga dihadiri Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana.
Penghargaan yang diinisiasi sebuah majalah nasional terbitan Jakarta itu menempatkan Banyuwangi di peringkat ketujuh sebagai kabupaten terbaik dalam kategori pertumbuhan ekonomi kreatif.
Dewan juri penghargaan tersebut terdiri atas para peneliti dari Indonesia Research Center (IRC) dan pakar otonomi daerah Prof Dr Ryas Rasyid. Selain melihat langsung kegiatan pemerintahan, mereka melakukan penelitian yang melibatkan berbagai elemen masyarakat Banyuwangi.
Bupati Anas mengatakan, pihaknya getol mendorong kemajuan industri kreatif berbasis pariwisata. "Sejumlah subsektor industri kreatif seperti seni pertunjukan, desain, arsitektur, fashion, kerajinan, dan pasar barang seni kami dorong agar tumbuh dan bisa berdampak ekonomi pada masyarakat," ungkap Anas.
Pertumbuhan Ekonomi Banyuwangi Meningkat
Banyuwangi Bagus on 23 October 2014 | 12:34 AM
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, pada tahun 2015 diproyeksikan meningkat pada kisaran 6,8 hingga 7,24 persen atau di atas rata-rata pertumbuhan nasional.
Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengemukakan, target pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu bisa dicapai, asalkan kondusivitas wilayah tetap terjaga dengan baik seperti beberapa tahun terakhir.
"Kondusivitas wilayah yang meningkat itu, antara lain stabilitas sosial, politik dan keamanan dalam pengembangan usaha, ketersediaan SDM berkualitas, infrastruktur transportasi barang, jasa, kapital, dan aksesibilitas komunikasi dan informasi," katanya di Banyuwangi, Selasa (21/10).
Abdullah Azwar Anas mengemukakan hal itu saat penyampaian substansi Rancangan Kebijakan Umum APBD serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) APBD Tahun Anggaran 2015 di gedung DPRD Banyuwangi.
Ia menyebutkan pertumbuhan ekonomi Banyuwangi pada 2011 dan 2012 mampu mencapai angka di atas 7 persen. Namun, mengalami fluktuasi pada 2013 sehingga sedikit turun menjadi 6,76 persen.
"Meskipun turun, pertumbuhan ekonomi Banyuwangi masih di atas rata-rata nasional yang hanya 5,8 persen. Untuk tahun 2015, pertumbuhan diproyeksikan bisa kembali meningkat," ujarnya.
Dalam paparan di hadapan anggota dewan, bupati mengatakan pendapatan daerah pada RAPBD 2015 diproyeksikan naik sebesar 5,65 persen, dari Rp2,07 triliun menjadi Rp2,19 triliun.
Peningkatan pendapatan daerah tersebut ditunjang dari pendapatan asli daerah (PAD) yang diproyeksikan meningkat 15,21 persen dari target yang ditetapkan pada APBD 2014, yakni dari Rp208,9 miliar menjadi Rp240,6 miliar.
Selain itu, hasil pajak daerah juga ditargetkan meningkat dari Rp11,4 miliar menjadi Rp75,6 miliar.
"Untuk dana perimbangan, terjadi peningkatan sebesar Rp21,9 miliar atau naik 1,59 persen dari target yang ditetapkan dalam APBD 2014 atau menjadi Rp1,40 triliun," tambahnya.
Sementara pendapatan lain-lain yang sah, diproyeksikan mencapai Rp544,1 miliar atau meningkat 13,18 persen dibanding target yang ditetapkan dalam APBD 2014 sebesar Rp480,8 miliar.
Sedangkan untuk belanja daerah, bupati mengatakan dalam RAPBD 2015 direncanakan mencapai Rp2,32 triliun atau naik Rp102,2 miliar dibanding sebelumnya.
"Peningkatan belanja tidak langsung, salah satunya untuk memfasilitasi kebutuhan masyarakat kurang mampu, selain juga sebagai dukungan Pemkab Banyuwangi dalam penyelenggaraan perkuliahan di kampus Universitas Airlangga di Banyuwangi yang dimulai tahun ini," ujar bupati.
Manfaat Tour de Banyuwangi Ijen 2014
Dampak setelah diadakannya kegiatan Tour de Ijen 2012, dan 2013 adalah memicu peningkatan pariwisata yang sangat luar biasa. Infrastruktur jalan yang dahulu tidak tersentuh pembangunan, sekarang menjadi bagus karena dilalui oleh kegiatan Tour de Ijen. Partner/sponsorship juga banyak diberikan keuntungan dengan keikutsertaannya membantu kegiatan ini, karena potensi penonton yang sangat membludak. sehingga sasaran untuk promo produk dari sponsor tercukupi.
Melalui Gandrung Sewu Banyuwangi Garap Pariwisata Budaya
KOMPAS/ADI SUCIPTO Upaya Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam melestarikan gandrung dimulai dengan mengenalkan tari gandrung. Sebanyak 1.053 penari gandrung dilibatkan dalam paju gandrung sewu di pantai Boom Banyuwangi Jawa Timur pada Sabtu (23/11/2013) lalu artinya ada 2056 penari termasuk 1053 penari paju.
BANYUWANGI, KOMPAS.com - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, akan lebih intensif menggarap pariwisata budaya untuk menggaet kunjungan wisatawan, salah satunya melalui ajang "Festival Gandrung Sewu".
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di sela perhelatan Festival Gandrung Sewu di Pantai Boom, Banyuwangi, Sabtu (29/11/2014), mengemukakan pariwisata budaya kini mulai menjadi salah satu tren yang cukup diminati wisatawan, selain wisata alam dan wisata buatan.
Pariwisata budaya akan membuat orang ingin mencari tahu mengenai seni budaya yang ada di suatu daerah. "Salah satu tren wisata yang semakin berkembang adalah pariwisata budaya, yakni jenis pariwisata yang mengandalkan kebudayaan khas sebuah tempat, mulai dari tradisi, kesenian, upacara, hingga kuliner, yang bisa memberikan pengalaman tentang keanekaragaman dan identitas dari sebuah masyarakat. Ini yang sedang kami garap di Banyuwangi," paparnya.
Anas mencontohkan keberadaan Festival Gandrung Sewu, Banyuwangi Ethno Carnival, Batik Festival, atau Festival Kebo-Keboan dan Festival Rujak Soto yang memotret secara lengkap tentang kebudayaan Banyuwangi.
"Pendekatan pariwisata budaya memberi titik tekan pada inisiatif lokal untuk diangkat ke skala nasional dan global, yang nantinya bisa berujung pada peningkatan pergerakan ekonomi rakyat berbasis seni budaya," ujar Anas.
Perhelatan Festival Gandrung Sewu di Pantai Boom, Banyuwangi, menjadi pertunjukan kolosal kesenian khas daerah setempat yang melibatkan lebih kurang 1.200 penari dengan berbusana warna dominan merah menyala.
Memikat
"Acaranya sungguh memikat. Saya kagum Banyuwangi punya agenda pariwisata berkelanjutan yang bisa menarik minat wisatawan," kata Putri Pariwisata, Syarifah Fajri Mauilidiyah, yang berkesempatan hadir di Banyuwangi dan menyaksikan festival tahunan tersebut.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi Yanuar Bramuda mengatakan Festival Gandrung Sewu sudah digelar untuk kali ketiga dan tahun ini mengangkat tema "Seblang Subuh". "Tema Seblang Subuh mengandung makna permohonan ampun kepada Yang Maha Kuasa," katanya.
Ajang ini merupakan salah satu dari puluhan agenda kegiatan dari perhelatan "Banyuwangi Festival 2014". Pekan lalu, juga telah digelar Banyuwangi Ethno Carnival yang mengusung tema "The Mistic Dance of Seblang".
Plengkung
Plengkung atau yang dikenal oleh wisatawan mancanegara dengan nama G-Land merupakan surga bagi para peselancar profesional dari dalam negeri ataupun mancanegara. Huruf G berasal dari kata Grajagan, nama dari sebuah teluk yang memiliki ombak yang besar. G-Land dikelilingi oleh hutan hujan tropis yang masih alami. Bulan Mei sampai Oktober adalah bulan terbaik untuk surfing. G-Land menawarkan olahraga surfing yang paling digemari oleh para pesurfer dan disarankan hanya untuk para pesurfer profesional karena ombaknya yang dapat mencapai 5 meter.
Kebanyakan dari para peselancar berangkat dari Bali, melalui Banyuwangi langsung ke G-Land atau ke Grajagan, kemudian menyewa boat ke pantai Plengkung. Untuk menginap tersedia Cottage dan Jungle camp dekat pantai bagi para pengunjung.
Bagaimana Mencapai Pantai Plengkung atau G-Land?
Pantai Plengkung terletak di pantai selatan Banyuwangi, ujung timur Jawa Timur. Para pengunjung dapat mencapai Pantai ini dengan dua jalur; darat maupun darat dan laut.
Lewat Darat : Banyuwangi-Kalipahit (59 Km) naik Bus, Kalipahit-Pasaranyar (3 Km) dengan ojek atau menyewa mobil, Pasaranyar Trianggulasi-Pancur (15 Km), Pancur-Plengkung (9 Km) dengan Mobil Khusus.
Lewat Darat-Laut : Banyuwangi-Benculuk (35 Km) naik Bus atau kendaraan umum lainnya, Benculuk-Grajagan (18 Km) dan Grajagan Plengkung dengan Speet Boat.
Kedua jalur menuju Plengkung tersebut semuanya tidak ada masalah. Jika pengunjung memilih melalui Grajagan penginapan di pantai Grajagan tersedia, dan para pengunjung bisa menikmati keindahan pantai Grajagan sebelum berangkat ke pantai Plengkung.
Kesimpulan
Dengan kemampuan yang memadai yang dilakukan oleh pemberi pengaruh (pemimpin) nyatanya mampu membuat kota santet banyuwangi memiliki citra menarik dan eksklusif. Sehingga masyarakat osing pada khususnya dan warga Banyuwangi pada umumnya menjadi bangga dan lebih terbuka terhadap dunia luar. Demikian juga stigma santet perlahan mulai sirna seiring dengan berbagai pemberitaan tentang kemajuan yang telah dicapai kabupaten paling timur jawa sehingga dapat menghadirkan nuansa baru sosiokultural di masyarakat Banyuwangi. Saat ini pendatang baru mulai banyak berdatangan dengan berbagai tujuan, mulai dengan tujuan untuk tinggal, berinvestasi atau sekedar untuk jalan-jalan atau berwisata. Mereka tidak lagi takut dengan stigma santet yang sempat cukup lama bersemayam pada kota Banyuwangi dan warganya. Stigma itu tinggal masa lalu.
Referensi:
David G Mayers, 2012. Psikologi Sosial. Jakarta. Salemba Humanika
Dahrendorf, Ralf."Class and Class Conflict in Industrial Society." Stanford CA: Stanford University. 1959
http://faktanews.co.id/spektakuler-festifal-gandrung-sewu-sedot-animo-wisatawan-hingga-luar-banyuwangi/
http://www.banyuwangi.us/search/label/Ekonomi
http://tourdebanyuwangiijen.id/page/news/manfaat-tour-de-banyuwangi-ijen-2014
http://travel.kompas.com/read/2014/11/30/192200727/Melalui.Gandrung.Sewu.Banyuwangi.Garap.Pariwisata.Budaya
PSIKOLOGI KOMUNITAS
DOSEN : Prof. Dr. Koentjoro, MBSc, Phd
Stigma Kota Santet Banyuwangi
Oleh:
ELLYANA ILSAN EKA PUTRI
NIM. 7413201320
FAKULTAS PSIKOLOGI
PROGRAM STUDI MAGISTER PSIKOLOGI
UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SURABAYA
ANGKATAN XXX
2015
Pendahuluan
Keberadaan komunitas osing tidak terlepas dari sejarah bumi Blambangan (sekarang Banyuwangi) dari nama tokoh Damarwulan dan Minak Jinggo yang mengandung cerita bahwa kedua nama itu diluncurkan untuk usaha melakukan delegitimasi dan sinisme raja Blambangan. Dalam tulisan ini sebenarnya hanya ingin mengetahu permasalahan yang ada terkait cerita atau legenda yang menyesatkan tetapi langsung dengan menyatakan orang Blambangan itu tertutup, dan tidak menerima orang luar, sehingga pantas bila kemudian dijuluki atau disebut dengan Wong Osing.
Jika suku bangsa lain di nusantara meradang dengan semisal contoh hasil survey yang menghasilkan tanggapan negative terhadap sukunya, tidak demikian dengan orang Banyuwangi yang pasrah dan tidak berkutik dengan hasil berbagai survey tentang anggapan negative sebutan wong osing. Mereka justru akan memberi penjelasan bahwa kata itu harus diartikan positif dan dapat dijadikan alasan untuk membangun teori bahwa orang asli Banyuwangi adalah suku tersendiri yang memiliki bahasa sendiri dan tidak menjadi rumpun Jawa.
Tidak cukup dengan sebutan sebagai wong osing yang tertutup dari dunia luar dan tidak mau membaur dengan suku bangsa lain, masyarakat Osing mendapat sebutan negative baru sebagai ahli santet yang kemudian menjadikan Banyuwangi terimbas mendapat julukan sebagai kota santet. Stigma tersebut bermula pada tahun 1998, dimana telah terjadi pembantaian berkedok isu dukun santet. Dari data yang berhasil dikumpulkan sedikitnya 253 orang tewas yang menyebar di Banyuwangi, Jembar, Situbondo, Bondowoso, Pasuruan, Pamekasan dan Sampang. Korban terbanyak tentu saja di Banyuwnagi sebanyak 143 orang. https://jurnalis.wordpress.com/1998/12/13/mengungkap-konspirasi-pembantaian-banyuwangi/.
Akibat peristiwa itu Banyuwangi pun popular disebut sebagai Kota Santet yang berdampak sangat merugikan citra masyarakat Banyuwangi secara keseluruhan. Stigma negativepun menjadi melekat pada setiap orang Banyuwangi. Dengan sebutan yang menakutkan itu, secara psikologis membuat orang menjadi takut pergi ke Banyuwangi. Begitu juga orang Banyuwangi yang merantau ke luar daerahnya, keberadaannya sering menimbulkan sikap curiga dari orang disekelilingnya ketika mengetahui asal daerahnya.
Berdasarkan latar belakang tersebut penulis mengambil masalah tentang dampak yang ditimbulkan dari berbagai julukan dan stigma negative yang terlanjur melekat pada komunitas warga osing di Banyuwangi, menggunakan teori-teori yang ada dalam psikologi komunitas.
Pembahasan
Dalam psikologi komunitas terdapat beberapa teori yang membahas tentang interaksi sosial individu dengan lingkungannya termasuk bagaimana interaksi warga Banyuwangi selama ini dengan stigma kota santet yang melekat hingga bahkan sampai peristiwa itu telah 17 tahun berlalu. Berrikut beberapa kajian teori dalam psikologi komunitas kaitannya dengan permasalahan tersebut.
Stigma santet pada warga osing Banyuwangi berlangsung sudah 17 tahun yang lalu hingga sekarang. Namun peritiwa itu bukannya tidak menimbulkan dampak psikologis bagi warga osing itu sendiri. Menurut pandangan sosiokultur, lingkungan dan interaksinya dengan subyek atau sekelompok subyeklah yang menjadi penyebab munculnya gangguan jiwa. Terdapat permasalahan yang mendorong timbulnya psikologi komunitas, yaitu pentinganya faktor lingkungan, baik sosial maupun non sosial yang menentukan perilaku dan permasalahan manusia.
Permasalahan warga osing lebih kepada pengaruh sosial tentang stigma kota santet yang berujung pada perubahan tingkah laku dalam berinteraksi dengan lingkungan serrta interaksinya dengan warga kota lain. Baik ketika orang osing keluar dari Banyuwangi dan berkunjung ke tempat lain, maupun orang dari kota lain yang berkunjung ke kota Banyuwangi. Hal inilah yang kemudian menimbulkan konflik bagi warga osing.
Menurut Dahrendorf, terdapat beberapa jenis konflik, diantaranya adalah konflik antara atau dalam peran sosial (antar pribadi), konflik antara kelompok-kelompok sosial, konflik kelompok terorganisisr dan tidak terorganisir, konflik antar satuan nasional, konflik antar atau tidak antar agama dan konflik antar politik. Dalam permasalah stigma santet bagi warga osing penulis menilai bahwa konflik yang tepat telah terjadi bagi warga osing adalah konflik antara atau dalam peran sosial serrta konflik antara kelompok-kelompok sosial. Dikatakan konflik karena mereka (warga osing) dalam setiap individu telah melekat stigma bahwa mereka lahir di kota yang perrnah terjadi peeristiwa santet, sehingga kemanapun mereka pergi selama mereka mengaku sebagai orang yang berasal dari kota banyuwangi maka orang atau ligkungan baru di tempat mereka berkunjung baik itu untuk sementara atau untuk tinggal secara otomatis lingkungan baru tersebut akan memberri cap bahwa dia berasal dari kota santet. Anggapan itu kemudian diikuti sangkaan bahwa orang yang berasal dari banyuwangi pasti bisa santet, sehingga tidak sedikit kemudian yang menjauhi orang banyuwangi ditempat baru akibat anggapan tersebut. Namun ada juga yang justru segan kepada orang banyuwangi karena takut dengan kemampuan yang mereka duga dimiliki oleh setiap orang yang berasal dari Banyuwangi.
Hasil dari konflik itu menurut Dahrendorf diantaranya adalah meningkatkan solidaritas sesame anggota kelompok yang mengalami konflik; keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai; perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam, benci, saling curiga dll; kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia; serta timbulnya dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat. Adapaun hasil dari konflik yang terjadi pada warga osing sebenarnya tidak menimbulkan keretakan antar warga osing namun semakin meningkatkan solidaritas sesame orang osing, ini dibuktikan dengan meskipun mereka mendapat cap sebagai orang osing yang bisa melakukan ilmu santet namun mereka (warga osing Banyuwangi) berupaya keras untuk dapat menghapus stigma itu dengan perlahan, mulai dari perubahan tingkah laku yang lebih ramah dan membuka diri terhadap orang baru dan lingkungan baru. Mengapa demikian? Karena awal dari istilah osing itu sendiri diberikan karena mereka adalah warga yang tertutup dan sulit untuk berinteraksi dengan lingkungan luar dari kelompok warga non osing. Perristwa santet yang terjadi tahun 1998 menambah sikap tertutup mereka. Demikian juga dengan orang diluar Banyuwangi yang menilai bahwa memang benar bahwa Banyuwangi pantas deri julukan kota santet.
Sikap membuka diri terhadap lingkungan luar dan sekitar banyuwangi mulai ditunjukkan saat kepemimpinan seorang Bupati muda Abdullah Azwar Anas yang seolah perlahan menyibak tabir suram dan gelap warga osing pada khususnya dan warga Banyuwangi pada umumnya. Menurut Betram Raven dkk terdapat beberapa bentuk kekuasaan pemimpin, diantara nya adalah kekuasaan imbalan (reward power), kekuasaan hukum (coercive power), kekuasaan legitimasi (legitimate power), kekuasaan rujukan (referent power), kekuasaan ahli (expert power), kekuasaan informasial (informatial power). Seluruh tipe kekuasaan tersebut mempunyai ketergantungan secara sosial, artinya bergantung pada kualitas, strategi atau modal yang dimiliki oleh pemberi pengaruh, yang dapat membuat oerintah menjadi lebih efektif.
Dengan kekuasaan dan pengaruh dari kepemimpinan yang baru dalam beberapa tahun belakangan ini (tahun 2011 hingga sekarang) Banyuwangi mulai diperhitungkan sebagai kabupaten dengan pendapatan, masyarakat osing khususnya dan Banyuwangi. Berbagai terobosan mulai dari perbaikan ekonomi, infrasturktur serta pariwisata Banyuwangi telah berhasil membuat investor dan dunia luar mengakui bahwa Banyuwangi tidak lagi kota yang seram dan tertutup dengan stigma santet dan berbagai stigma magis lainnya. Hal ini terbukti dengan majunya sektor perdagangan dan pariwisata yang awalnya adalah sebuah budaya local sederhana yang kemudian dengan pengetahuan dan terobosan baru menjadi komoditi yang layak untuk dijual. Dengan berbagai program rutin, pemerintah kota Banyuwangi telah melakukan perubahan dan penghapusa stigma secara tidak langsung terhadap kotanya. Hal ini dapat dilihat dari festifal tari gandrung misalnya, dahulu gandrung adalah tari yang bernuansa magis, namun saat ini program festifal seribu gandrung yang diadakan setiap hari jadi kota Bayuwangi membuat mata setiap orang dari luar kota dan bahkan dunia melihat bahwa Banyuwangi memiliki budaya yang bukan dikatakan magis tapi menjadi sebuah perubahan makna menjadi eksotik. Ditambah lagi daerah tertutup dan terpencil seperti obyek-obyek wisata wana wisata dan wana bahari yang dulunya mistik dan tidak bisa terjamah dan terjangkau oleh dunia luar Banyuwangi, sekarang justtru menjadi komodisti mahal yang dapat menghasilkan income bagi kota Banyuwangi.
Beberapa berita dibawah in dapat menjadi bukti bahwa Banyuwangi bukan lagi tertutup dan mistik untuk ditakuti terutama warga osingnya.
BANYUWANGI, SATU DARI 10 KABUPATEN TERBAIK DI INDONESIA
Banyuwangi Bagus on 22 March 2014 | 5:23 PM
Kabupaten Banyuwangi kembali meraih penghargaan tingkat nasional. Kali ini Banyuwangi berhasil mendapat penghargaan Government Awards sebagai salah satu di antara sepuluh kabupaten terbaik di Indonesia tahun 2014.
Penghargaan itu diserahkan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi kepada Bupati Anas di Hotel Sahid Jakarta Kamis (20/3). Penganugerahan tersebut juga dihadiri Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana.
Penghargaan yang diinisiasi sebuah majalah nasional terbitan Jakarta itu menempatkan Banyuwangi di peringkat ketujuh sebagai kabupaten terbaik dalam kategori pertumbuhan ekonomi kreatif.
Dewan juri penghargaan tersebut terdiri atas para peneliti dari Indonesia Research Center (IRC) dan pakar otonomi daerah Prof Dr Ryas Rasyid. Selain melihat langsung kegiatan pemerintahan, mereka melakukan penelitian yang melibatkan berbagai elemen masyarakat Banyuwangi.
Bupati Anas mengatakan, pihaknya getol mendorong kemajuan industri kreatif berbasis pariwisata. "Sejumlah subsektor industri kreatif seperti seni pertunjukan, desain, arsitektur, fashion, kerajinan, dan pasar barang seni kami dorong agar tumbuh dan bisa berdampak ekonomi pada masyarakat," ungkap Anas.
Pertumbuhan Ekonomi Banyuwangi Meningkat
Banyuwangi Bagus on 23 October 2014 | 12:34 AM
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, pada tahun 2015 diproyeksikan meningkat pada kisaran 6,8 hingga 7,24 persen atau di atas rata-rata pertumbuhan nasional.
Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengemukakan, target pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu bisa dicapai, asalkan kondusivitas wilayah tetap terjaga dengan baik seperti beberapa tahun terakhir.
"Kondusivitas wilayah yang meningkat itu, antara lain stabilitas sosial, politik dan keamanan dalam pengembangan usaha, ketersediaan SDM berkualitas, infrastruktur transportasi barang, jasa, kapital, dan aksesibilitas komunikasi dan informasi," katanya di Banyuwangi, Selasa (21/10).
Abdullah Azwar Anas mengemukakan hal itu saat penyampaian substansi Rancangan Kebijakan Umum APBD serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) APBD Tahun Anggaran 2015 di gedung DPRD Banyuwangi.
Ia menyebutkan pertumbuhan ekonomi Banyuwangi pada 2011 dan 2012 mampu mencapai angka di atas 7 persen. Namun, mengalami fluktuasi pada 2013 sehingga sedikit turun menjadi 6,76 persen.
"Meskipun turun, pertumbuhan ekonomi Banyuwangi masih di atas rata-rata nasional yang hanya 5,8 persen. Untuk tahun 2015, pertumbuhan diproyeksikan bisa kembali meningkat," ujarnya.
Dalam paparan di hadapan anggota dewan, bupati mengatakan pendapatan daerah pada RAPBD 2015 diproyeksikan naik sebesar 5,65 persen, dari Rp2,07 triliun menjadi Rp2,19 triliun.
Peningkatan pendapatan daerah tersebut ditunjang dari pendapatan asli daerah (PAD) yang diproyeksikan meningkat 15,21 persen dari target yang ditetapkan pada APBD 2014, yakni dari Rp208,9 miliar menjadi Rp240,6 miliar.
Selain itu, hasil pajak daerah juga ditargetkan meningkat dari Rp11,4 miliar menjadi Rp75,6 miliar.
"Untuk dana perimbangan, terjadi peningkatan sebesar Rp21,9 miliar atau naik 1,59 persen dari target yang ditetapkan dalam APBD 2014 atau menjadi Rp1,40 triliun," tambahnya.
Sementara pendapatan lain-lain yang sah, diproyeksikan mencapai Rp544,1 miliar atau meningkat 13,18 persen dibanding target yang ditetapkan dalam APBD 2014 sebesar Rp480,8 miliar.
Sedangkan untuk belanja daerah, bupati mengatakan dalam RAPBD 2015 direncanakan mencapai Rp2,32 triliun atau naik Rp102,2 miliar dibanding sebelumnya.
"Peningkatan belanja tidak langsung, salah satunya untuk memfasilitasi kebutuhan masyarakat kurang mampu, selain juga sebagai dukungan Pemkab Banyuwangi dalam penyelenggaraan perkuliahan di kampus Universitas Airlangga di Banyuwangi yang dimulai tahun ini," ujar bupati.
Manfaat Tour de Banyuwangi Ijen 2014
Dampak setelah diadakannya kegiatan Tour de Ijen 2012, dan 2013 adalah memicu peningkatan pariwisata yang sangat luar biasa. Infrastruktur jalan yang dahulu tidak tersentuh pembangunan, sekarang menjadi bagus karena dilalui oleh kegiatan Tour de Ijen. Partner/sponsorship juga banyak diberikan keuntungan dengan keikutsertaannya membantu kegiatan ini, karena potensi penonton yang sangat membludak. sehingga sasaran untuk promo produk dari sponsor tercukupi.
Melalui Gandrung Sewu Banyuwangi Garap Pariwisata Budaya
KOMPAS/ADI SUCIPTO Upaya Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam melestarikan gandrung dimulai dengan mengenalkan tari gandrung. Sebanyak 1.053 penari gandrung dilibatkan dalam paju gandrung sewu di pantai Boom Banyuwangi Jawa Timur pada Sabtu (23/11/2013) lalu artinya ada 2056 penari termasuk 1053 penari paju.
BANYUWANGI, KOMPAS.com - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, akan lebih intensif menggarap pariwisata budaya untuk menggaet kunjungan wisatawan, salah satunya melalui ajang "Festival Gandrung Sewu".
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di sela perhelatan Festival Gandrung Sewu di Pantai Boom, Banyuwangi, Sabtu (29/11/2014), mengemukakan pariwisata budaya kini mulai menjadi salah satu tren yang cukup diminati wisatawan, selain wisata alam dan wisata buatan.
Pariwisata budaya akan membuat orang ingin mencari tahu mengenai seni budaya yang ada di suatu daerah. "Salah satu tren wisata yang semakin berkembang adalah pariwisata budaya, yakni jenis pariwisata yang mengandalkan kebudayaan khas sebuah tempat, mulai dari tradisi, kesenian, upacara, hingga kuliner, yang bisa memberikan pengalaman tentang keanekaragaman dan identitas dari sebuah masyarakat. Ini yang sedang kami garap di Banyuwangi," paparnya.
Anas mencontohkan keberadaan Festival Gandrung Sewu, Banyuwangi Ethno Carnival, Batik Festival, atau Festival Kebo-Keboan dan Festival Rujak Soto yang memotret secara lengkap tentang kebudayaan Banyuwangi.
"Pendekatan pariwisata budaya memberi titik tekan pada inisiatif lokal untuk diangkat ke skala nasional dan global, yang nantinya bisa berujung pada peningkatan pergerakan ekonomi rakyat berbasis seni budaya," ujar Anas.
Perhelatan Festival Gandrung Sewu di Pantai Boom, Banyuwangi, menjadi pertunjukan kolosal kesenian khas daerah setempat yang melibatkan lebih kurang 1.200 penari dengan berbusana warna dominan merah menyala.
Memikat
"Acaranya sungguh memikat. Saya kagum Banyuwangi punya agenda pariwisata berkelanjutan yang bisa menarik minat wisatawan," kata Putri Pariwisata, Syarifah Fajri Mauilidiyah, yang berkesempatan hadir di Banyuwangi dan menyaksikan festival tahunan tersebut.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi Yanuar Bramuda mengatakan Festival Gandrung Sewu sudah digelar untuk kali ketiga dan tahun ini mengangkat tema "Seblang Subuh". "Tema Seblang Subuh mengandung makna permohonan ampun kepada Yang Maha Kuasa," katanya.
Ajang ini merupakan salah satu dari puluhan agenda kegiatan dari perhelatan "Banyuwangi Festival 2014". Pekan lalu, juga telah digelar Banyuwangi Ethno Carnival yang mengusung tema "The Mistic Dance of Seblang".
Plengkung
Plengkung atau yang dikenal oleh wisatawan mancanegara dengan nama G-Land merupakan surga bagi para peselancar profesional dari dalam negeri ataupun mancanegara. Huruf G berasal dari kata Grajagan, nama dari sebuah teluk yang memiliki ombak yang besar. G-Land dikelilingi oleh hutan hujan tropis yang masih alami. Bulan Mei sampai Oktober adalah bulan terbaik untuk surfing. G-Land menawarkan olahraga surfing yang paling digemari oleh para pesurfer dan disarankan hanya untuk para pesurfer profesional karena ombaknya yang dapat mencapai 5 meter.
Kebanyakan dari para peselancar berangkat dari Bali, melalui Banyuwangi langsung ke G-Land atau ke Grajagan, kemudian menyewa boat ke pantai Plengkung. Untuk menginap tersedia Cottage dan Jungle camp dekat pantai bagi para pengunjung.
Bagaimana Mencapai Pantai Plengkung atau G-Land?
Pantai Plengkung terletak di pantai selatan Banyuwangi, ujung timur Jawa Timur. Para pengunjung dapat mencapai Pantai ini dengan dua jalur; darat maupun darat dan laut.
Lewat Darat : Banyuwangi-Kalipahit (59 Km) naik Bus, Kalipahit-Pasaranyar (3 Km) dengan ojek atau menyewa mobil, Pasaranyar Trianggulasi-Pancur (15 Km), Pancur-Plengkung (9 Km) dengan Mobil Khusus.
Lewat Darat-Laut : Banyuwangi-Benculuk (35 Km) naik Bus atau kendaraan umum lainnya, Benculuk-Grajagan (18 Km) dan Grajagan Plengkung dengan Speet Boat.
Kedua jalur menuju Plengkung tersebut semuanya tidak ada masalah. Jika pengunjung memilih melalui Grajagan penginapan di pantai Grajagan tersedia, dan para pengunjung bisa menikmati keindahan pantai Grajagan sebelum berangkat ke pantai Plengkung.
Kesimpulan
Dengan kemampuan yang memadai yang dilakukan oleh pemberi pengaruh (pemimpin) nyatanya mampu membuat kota santet banyuwangi memiliki citra menarik dan eksklusif. Sehingga masyarakat osing pada khususnya dan warga Banyuwangi pada umumnya menjadi bangga dan lebih terbuka terhadap dunia luar. Demikian juga stigma santet perlahan mulai sirna seiring dengan berbagai pemberitaan tentang kemajuan yang telah dicapai kabupaten paling timur jawa sehingga dapat menghadirkan nuansa baru sosiokultural di masyarakat Banyuwangi. Saat ini pendatang baru mulai banyak berdatangan dengan berbagai tujuan, mulai dengan tujuan untuk tinggal, berinvestasi atau sekedar untuk jalan-jalan atau berwisata. Mereka tidak lagi takut dengan stigma santet yang sempat cukup lama bersemayam pada kota Banyuwangi dan warganya. Stigma itu tinggal masa lalu.
Referensi:
David G Mayers, 2012. Psikologi Sosial. Jakarta. Salemba Humanika
Dahrendorf, Ralf."Class and Class Conflict in Industrial Society." Stanford CA: Stanford University. 1959
http://faktanews.co.id/spektakuler-festifal-gandrung-sewu-sedot-animo-wisatawan-hingga-luar-banyuwangi/
http://www.banyuwangi.us/search/label/Ekonomi
http://tourdebanyuwangiijen.id/page/news/manfaat-tour-de-banyuwangi-ijen-2014
http://travel.kompas.com/read/2014/11/30/192200727/Melalui.Gandrung.Sewu.Banyuwangi.Garap.Pariwisata.Budaya
Kamis, 11 Desember 2014
Sejarah Konseling
01.22
No comments
Konseling adalah profesi khusus yang telah berkembang melalui berbagai cara sejak awal abad ke - 20. Konseling merupakan profesi tersendiri. Profesi ini berkaitan dengan masalah kesejahteraan, pengambangan, dan situasional selain membantu orang-orang yang tidak berfungsi semestinya. Profesi ini berbasis pada prinsip dan definisi yang telah berevolusi selama bertahun-tahun. Dalam profesi ini terdapat sejumlah spesialisasi.
Dari penelitian terhadap sejarah konseling tampak bahwa profesi ini berbasis antar disiplin. Profesi ini dimulai dengan minat dan aktivitas Frank Parsons, Jesse B. Davis, serta Clifford Beers yang hampir bersamaan dalam menyediakan, mereformasi, dan memperbaiki pelayanan di bidang bimbingan kerja, pengembangan karakter siswa sekolah, dan perawatan kesehatan mental. Di awal sejarahnya, konseling saling terkait dengan psikometri, psikologi, antropologi, etika, hukum, filsafat, dan sosiologi. Selain perkembangan teori dan cara praktis bekerja dengan klien, kejadian penting dalam perkembangan konseling meliputi keterlibatan pemerintah dalam konseling selama dan sesudah Perang Dunia I, Depresi Besar, Perang Dunia II, dan peluncuran Sputnik.
Ide-ide dari para inovator seperti Frank Parsons, E.G. Williamson, Carls Rogers, Gilbert Wrenn, Donald Super, Leona Tyler, dan THomas J. Sweeney telah membentuk perkembangan profesi ini dan memperluas cakupannya. Kemunculan dan pertumbuhan American Counseling Association (yang berasal dari pendirian National Vocational Guidence Association pada tahun 1913) dan Divisi 17 (Society of Counseling Psychology) dari American Psychological Association menjadi faktor utama dalam pertumbuhan profesi konseling.
Tantangan yang dihadapi oleh profesi ini di abad ke-21 meliputi kekerasan, trauma dan krisis, berinteraksi positif dengan organisasi perawatan yang terorganisir, meningkatkan kesejahteraan, menggunakan teknologi secara bijak dan efektif; memberikan kepemimpinan; dan bekerja untuk membentuk identitas yang lebih kuat bagi profesi ini.
Langganan:
Postingan (Atom)













